KEDIRI, SuaraRepublika.id – Kementerian Pertanian (Kementan) menargetkan program bongkar ratoon tebu di lahan seluas lebih dari 97 hektar di seluruh Indonesia. Langkah konkret itu sebagai upaya percepatan swasembada gula konsumsi nasional yang ditarget terealisasi pada 2026.
“Kalau untuk semua komoditas hilirisasi, ada 800-an ribu lebih, ya. Tapi untuk tebu, sekitar 97.097 hektar. Nah, di antaranya paling besar persentasenya lebih dari 60% adalah bongkar ratoon,” kata Ali Jamil Plt Dirjen Perkebunan Kementan dalam kegiatan bongkar ratoon di Desa Ngletih Kecamatan Kandat Kabupaten Kediri, Sabtu 23 Mei 2026.
Selain peremajaan tanaman dengan bibit unggul, untuk mendukung sektor produksi gula nasional pemerintah juga terus memperluas luas areal tanam komoditas tebu dengan menggandeng lintas sektor. Termasuk potensi langkah kolaborasi dengan Perhutani agar target gula nasional pada 2028 dapat terwujud.
“Nah, maka harapan kita, sebenarnya perluasan areal tadi saya lupa menyampaikan, harapannya tadi kita singgung, Ibu Gubernur tadi menyinggung, di lapangan menyinggung tadi, terkait dengan mohon tolong teman-teman dari Perhutani, lahan-lahan yang di Perhutani, lahan-lahan yang di KHDTK misalnya begitu, itu tuh sepanjang itu bisa kita manfaatkan dan dia misalnya lahannya idle misalnya, bisa kita manfaatkan oleh petani, pekebun kita untuk nanam tebu, program ini mohon tolong dukungannya semuanya,” tambahnya.
Selain ketersediaan lahan yang mencukupi serta alat pertanian yang memadai, ia juga meminta kepada petugas pendamping pertanian di lapangan untuk terus mensosialisasikan penggunaan varietas tebu unggul serta lebih getol mendampingi masyarakat petani. Sehingga target swasembada gula konsumsi pada 2026 dan swasembada gula total baik industri serta bioetanol pada 2028-2030 dapat terwujud.
“PPL tolong dibantu, bahwa penentuan varietas ini ada sebenarnya teknologinya. Supaya dia masuk nanti di musim, di musim giling awal, di tengah, atau di akhir. Nah, itu sangat menentukan karena varietas ini ditentukan, disiapkan untuk sesuai dengan kondisi curah hujan, kondisi iklim, dan lain sebagainya,” pungkasnya.
Direktur Utama PT Sinergi Gula Nusantara (SGN), Mahmudi menambahkan, merujuk data evaluasi pada tahun 2024, peremajaan bibit harus dilakukan untuk mendukung percepatan realisasi swasembada gula nasional. Percepatan program bongkar ratoon di Jawa Timur terus dikebut untuk menyelaraskan masa tanam dengan musim giling. Terlebih Jatim menjadi tulang punggung produksi gula nasional.
“Untuk meningkatkan produktivitas, 86 persen harus dibongkar. Nah, dari Pak Presiden, lalu Pak Menteri, tentunya Pak Dirjen, disupport Gubernur, tahun kemarin ya kita sudah mulai program bongkar ratoon. Dan tahun ini kita ditarget 100.000 hektar, persisnya 97.000 hektar.
​Dan di Jawa Timur kami diberikan tugas tentunya, karena 85 persen itu produksinya dari Jawa Timur,” tambahnya.
Dari 38 Kabupaten/Kota di Jatim, Kabupaten Kediri menempati target program bongkar ratoon tertinggi. Pada tahun 2025, Kediri mendapatkan target bongkar ratoon seluas 3.864 hektar. Jika dibandingkan target tahun ini, angka itu mengalami kenaikan hampir dua kali lipat. Dengan luas tanam 22.297 hektar, Kabupaten Kediri mendapatkan target bongkar ratoon 7000 hektar. Pihaknya berharap produksi tebu di Jatim dapat memenuhi kebutuhan 26 pabrik tebu di bawah SGN dan 2 pabrik swasta.
“Kalau untuk tanam bisa sampai November, setelah tebang, sekitar 3 minggu baru di bongkar ratoon, namun kita harus siapkan lebih awal untuk menyelaraskan bibit sesuai arahan Pak Dirjen, Juni harus selesai semuanya,” pungkasnya.
Dalam kesempatan itu Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa berkomitmen untuk terus mendukung program swasembada gula nasional Presiden Prabowo Subianto. Lewat modernisasi pertanian hingga penggunaan bibit unggul, ia berharap target swasembada gula itu juga membawa peningkatan kesejahteraan masyarakat.
“Mari kita dukung bersama target pemerintah mewujudkan swasembada gula konsumsi pada 2026,” kata Khofifah.































