KEDIRI, SuaraRepublika.id – Kawasan Balikambang, Kelurahan Blabak, Kota Kediri mendadak menjadi sorotan setelah ditemukannya berbagai benda purbakala yang diduga kuat berasal dari era Kerajaan Majapahit. Penemuan ini berawal dari ketidaksengajaan seorang warga setempat saat mengolah lahan miliknya.
Mulyono, sang pemilik lahan, menceritakan bahwa benda-benda bersejarah tersebut ia temukan sekitar lima tahun silam. Saat itu, ia sedang menggali tanah sedalam 2,5 meter untuk mencari bahan baku pembuatan bata merah.
“Awalnya saya gali untuk bahan bata merah, lalu saya menemukan batu bata ukuran kuno dan lainnya berserakan. Saya kumpulkan di sini karena tidak sengaja sama sekali,” ungkap Mulyono, Rabu (13/5/2026).
Menariknya, Mulyono mengaku sempat mendapatkan firasat melalui mimpi sebelum melakukan penggalian di kebunnya tersebut. Dalam mimpinya, ia melihat sebuah bangunan bata kuno yang tersembunyi di balik rimbunnya pepohonan di lahan miliknya.
“Sebelum digali, saya pernah mimpi ada bangunan bata-bata di belakang kebun sini. Kalau dugaan saya, mungkin ini peninggalan era Majapahit,” tambah Mulyono meyakinkan.
Ekskavasi mandiri tersebut mengungkap berbagai artefak mencengangkan, mulai dari batu bata berukuran besar, batu andesit, hingga pecahan tembikar. Tak hanya itu, ditemukan pula keramik asal Cina dan potongan arca yang sangat ikonik.
Temuan yang paling mencuri perhatian tim ahli adalah pecahan kepala arca Dwarapala, sosok penjaga candi yang sakral. Meski bagian wajahnya belum ditemukan, fragmen gada dan ukiran rambut ikal khas era Majapahit terlihat sangat jelas.
Pamong Budaya Ahli Muda Disbudparpora Kota Kediri, Endah Setyowati, mengonfirmasi bahwa pihaknya telah turun langsung ke lokasi untuk meninjau temuan tersebut. Laporan ini sebenarnya sudah lama diterima melalui komunitas pegiat sejarah setempat.
“Tadi kami melihat langsung di lokasi, memang ada banyak temuan seperti batu bata merah besar, batu andesit, umpak, pecahan keramik Cina, ripih candi, dan pecahan arca,” jelas Endah saat berada di lokasi penemuan.
Endah menjelaskan bahwa keberadaan fragmen Dwarapala dan ripih candi memperkuat dugaan adanya bangunan suci di kawasan tersebut. Keberadaan komponen-komponen ini menjadi petunjuk penting bagi penelitian arkeologi lebih lanjut di masa depan.
“Diduga ini kepala Dwarapala kecil. Wajahnya memang belum ditemukan, tapi ada pecahan rambut ikal dan gada. Kemungkinan dulu di sana memang ada bangunan candi,” ujar Endah mendeskripsikan kondisi fisik artefak tersebut.
Saat ini, seluruh temuan tersebut akan segera dilaporkan kepada Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) untuk dikaji secara mendalam. Langkah ini diambil guna memastikan nilai sejarah dan usia pasti dari benda-benda purbakala tersebut.
Sebagai langkah pengamanan, sejumlah benda seperti pecahan tembikar dan fragmen arca kini telah dibawa ke museum atas izin pemilik lahan. Proses inventarisasi ini dilakukan untuk melestarikan warisan budaya agar tidak hilang atau rusak dimakan usia. (Eko)































