SURABAYA, SuaraRepublika.id – Pakar Seismologi Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Kadek Hendrawan Palgunadi, memperingatkan masyarakat untuk mewaspadai ancaman gempa susulan (aftershock) hingga dua minggu ke depan. Peringatan ini dikeluarkan merespons gempa bumi bermagnitudo 7,7 yang baru saja menggetarkan Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), serta rentetan gempa bermagnitudo di atas 6 di Sumatera Utara dan Sulawesi Tengah.
Kadek menjelaskan bahwa ketiga gempa yang terjadi dalam waktu berdekatan tersebut berasal dari entitas tektonik dan sesar yang berbeda, sehingga kecil kemungkinan saling berkaitan. Keterkaitan gempa beruntun umumnya baru terpicu jika dipicu oleh gempa megathrust bermagnitudo di atas 8.
Khusus untuk wilayah Flores, gempa dipicu oleh pergerakan sesar aktif Flores Back-Arc Thrust yang membentang dari daratan Flores hingga utara Bali. Sesar ini memiliki riwayat memicu gempa bermagnitudo 7,7 pada tahun 1992 dan diperkirakan para ahli mampu menghasilkan magnitudo maksimal hingga 7,8.
Ancaman gempa susulan muncul akibat penyesuaian sesar-sesar kecil di sekitar patahan utama. Meski kekuatannya cenderung menurun seiring waktu, statistik menunjukkan potensi terjadinya minimal tiga kali gempa susulan dengan magnitudo sekitar 6.
Masyarakat terdampak serta tim evakuasi diimbau untuk tetap siaga dan melakukan asesmen fisik terhadap ketahanan struktur bangunan. Warga diminta tetap berada di lokasi pengungsian jika hunian mereka mengalami keretakan yang berisiko roboh. Langkah edukasi dan mitigasi risiko ini sekaligus menjadi bagian dari komitmen ITS dalam mendukung poin ke-11 Sustainable Development Goals (SDGs) untuk mewujudkan permukiman yang tangguh bencana.





























