KEDIRI, SuaraRepublika.id – Pabrik Gula (PG) Ngadiredjo resmi memulai rangkaian musim giling tahun 2026 dengan menggelar selamatan buka giling pada Sabtu (2/5). Tradisi tahunan ini diawali dengan prosesi sakral kirab tebu manten sebagai simbol kesiapan pabrik mengolah hasil bumi.
Acara yang berlangsung khidmat tersebut juga diwarnai dengan kegiatan sosial berupa santunan anak yatim dan pemotongan tumpeng. Kemeriahan semakin terasa dengan adanya hiburan rakyat serta pembagian doorprize bagi masyarakat dan karyawan yang hadir di area pabrik.
Hadir dalam kegiatan ini jajaran GM wilayah Dhoho, SEVP Koordinator Manajemen KSO PT SGN Febri Ari Marpaung, serta jajaran manajemen dan APTR. Tampak pula perwakilan Pemkab Kediri dan Kapolres Kediri, AKBP Bramastyo Priaji, bersama sejumlah tokoh masyarakat setempat.
General Manager PG Ngadiredjo, Wayan Mei Purwono, menegaskan bahwa musim giling bukan sekadar aktivitas produksi rutin. Menurutnya, momentum ini merupakan upaya menjaga tradisi, memperkuat kemitraan, serta menjadi mesin penggerak ekonomi bagi warga sekitar.
“Ini adalah bentuk uri-uri budaya sekaligus rasa syukur kami dalam menyambut musim giling 2026. Kami berharap operasional tahun ini berjalan lancar dan membawa berkah bagi semua pihak,” ujar Wayan Mei Purwono di sela-sela acara.
Pada musim ini, PG Ngadiredjo mematok target ambisius dengan menggiling 11 juta kuintal tebu untuk menghasilkan 80 ribu ton gula. Angka ini meningkat signifikan dibandingkan musim lalu yang mencapai 70 ribu ton gula dari hasil giling 10,6 juta kuintal tebu.
Kekuatan bahan baku pabrik ini rupanya bertumpu pada sinergi dengan petani lokal, di mana lebih dari 90 persen tebu berasal dari petani mitra. Pihak manajemen memastikan proses pembinaan dilakukan secara komprehensif, mulai dari urusan hulu di lahan hingga ke hilir.
Manager Tanaman PG Ngadiredjo, Sabar, merinci bahwa saat ini mereka bermitra dengan sekitar 1.015 petani. Pasokan tebu dipetakan berasal dari wilayah Kediri sebesar 50 persen, disusul Blitar 30 persen, dan sisanya 20 persen dikirim dari wilayah Malang.
Selain aspek produksi, musim giling ini turut berdampak besar pada penyerapan tenaga kerja dengan melibatkan sekitar 900 pekerja dan 500 sopir angkutan. Manajemen pun mengimbau para sopir untuk selalu tertib berlalu lintas demi kenyamanan masyarakat selama masa operasional berlangsung. (Eko)































