BANGKALAN, SuaraRepublika.id – Presiden RI Prabowo Subianto resmi menutup Musyawarah Nasional (Munas) dan Konferensi Besar (Konbes) Nahdlatul Ulama (NU) 2026 di Institut Agama Islam (IAI) Syaichona Kholil, Bangkalan, Jawa Timur, Selasa (23/6/2026). Dalam pidatonya di hadapan 1.500 undangan, Presiden membeberkan data kerugian negara serta menegaskan komitmen pemerintah memberantas kebocoran anggaran.
Prabowo mengungkapkan data dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang diolah Dewan Ekonomi Nasional, yang menunjukkan Indonesia mengalami kerugian hingga 908 miliar dolar AS atau sekitar Rp 15.000 triliun selama 34 tahun terakhir. Kerugian ini akibat praktik under invoicing atau laporan palsu oleh pengusaha yang melarikan kekayaan ke luar negeri (Net Outflow of National Wealth).
“Pemerintah saya yakin berada di jalan yang benar, di jalan kebenaran, kejujuran, dan mempertahankan kepentingan rakyat. Saya tidak akan kompromi satu rupiah pun,” tegas Presiden Prabowo.
Untuk mengatasi penyimpangan sistemik tersebut, Prabowo mengklaim bahwa dalam 18 bulan masa kepemimpinannya, pemerintah telah mengambil alih lebih dari 5 juta hektare lahan sawit ilegal di hutan lindung dan menutup ratusan tambang tanpa izin. Selain itu, pemerintah juga mengevaluasi BUMN dengan menutup sekitar 240 perusahaan tidak produktif, dari target total 800 perusahaan negara yang merugi.
Menurut Presiden, dana hasil penyelamatan kebocoran tersebut kini dialihkan langsung untuk program kerakyatan. Beberapa di antaranya adalah perbaikan puluhan ribu sekolah dan madrasah, pembangunan jalan desa, peningkatan produksi pangan, serta program Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk anak sekolah.
Di sisi lain, Presiden Prabowo memberikan apresiasi tinggi terhadap kontribusi NU yang dinilainya selalu hadir sebagai faktor stabilisator dan penyelamat bangsa di masa-masa krusial. Ia juga memuji karakter NU yang dinilai nasionalis dan patriotis.
“NU selalu tampil di saat bangsa Indonesia dalam kondisi sulit. Warga NU adalah faktor stabilisator, faktor yang bisa membuat aman bangsa dan negara,” ujar Prabowo.
Dalam kesempatan tersebut, Prabowo juga menceritakan kedekatan emosionalnya dengan NU sejak kecil, termasuk pengalamannya bertetangga dengan keluarga KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) di Jakarta, serta asal-usul neneknya yang merupakan warga NU. Ia menyebut alasan membeberkan kondisi riil keuangan negara secara blak-blakan adalah agar para ulama, sebagai penyambung lidah rakyat di akar rumput, mendapatkan informasi yang sebenar-benarnya mengenai tantangan pemerintah.































