KEDIRI, SuaraRepublika.id – Ribuan warga memadati kawasan Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) Jemaat Sidorejo, Desa Sidorejo, Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri, untuk mengikuti prosesi tradisi tahunan Undhuh-undhuh pada Minggu (12/7/2026). Peringatan ini sekaligus menandai hari jadi ke-128 gereja yang berdiri sejak 2 Juli 1898 tersebut.
Tradisi Undhuh-undhuh merupakan hari raya persembahan hasil panen sebagai ungkapan syukur jemaat GKJW. Sejak pukul 06.00 WIB, rangkaian acara dimulai dengan arak-arakan gunungan berisi hasil bumi dari lapangan desa menuju gedung pertemuan di samping gereja.
Panitia acara, Lulus Nugraheni, menjelaskan bahwa tradisi ini rutin digelar setiap bulan Juli. Meski sudah diwariskan turun-temurun sejak era pasca-kolonial, prosesi arak-arakan gunungan baru ditambahkan sejak tahun 2017 untuk mengangkat dan melestarikan budaya lokal Kediri.
“Di dalam kegiatan spiritual dan religi, kita bisa mengangkat budaya lokal yang kemudian diintegrasikan sehingga membuat kreativitas warga semakin tinggi. Di dalamnya juga ada pesan-pesan moral yang arahnya pada ucapan syukur kepada Tuhan,” kata Lulus di sela-sela acara, Minggu (12/7).
Sebanyak 11 kelompok jemaat berpartisipasi dengan mengenakan pakaian adat lengkap dan menampilkan beragam tarian bernuansa Jawa yang diiringi musik gamelan. Setelah penampilan seni dan doa bersama, panitia menggelar lelang parsel makanan serta hasil bumi dari gunungan tersebut. Parsel dijual mulai harga Rp75 ribu, sementara hasil bumi dilelang kepada penawar tertinggi. Seluruh hasil penjualan akan digunakan untuk mendukung pelayanan gereja.
Kepala Desa Sidorejo, Bagus Krisdijanto, menyatakan bahwa keberadaan GKJW memiliki kaitan erat dengan sejarah panjang desa yang dibuka sejak masa kolonial Belanda sebagai lahan pertanian tembakau dan kopi. Wilayah yang subur akibat aliran lahar Gunung Kelud ini awalnya bernama Parerejo sebelum berganti nama menjadi Sidorejo pada 11 November 1936.
Bagus menambahkan, meski saat ini masyarakat Desa Sidorejo memiliki latar belakang agama yang beragam, kerukunan dan sikap saling membantu dalam kegiatan keagamaan maupun sosial tetap terjaga dengan baik.
Salah satu jemaat yang hadir, Sheila, berharap tradisi tahunan ini dapat terus mempererat kebersamaan warga serta membawa keberkahan bagi masyarakat.































