JAMBI, SuaraRepublika.id – Sebanyak 2.266 petani swadaya yang tergabung dalam tiga kelompok tani di Provinsi Jambi resmi mencetak sejarah dengan meraih sertifikasi ganda, yakni Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) dan Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO). Sertifikasi ini mencakup total luas lahan mencapai 4.171,62 hektare.
Pencapaian skala besar ini menjadi yang pertama di Indonesia untuk kategori petani swadaya. Keberhasilan ini merupakan hasil nyata dari program percepatan sertifikasi minyak sawit berkelanjutan multistakeholder yang diinisiasi oleh RSPO, Pemerintah Provinsi Jambi, Yayasan Setara Jambi, serta Pemerintah Kabupaten Tebo, Sarolangun, dan Tanjung Jabung Barat sejak November 2022 lalu.
Head of Smallholders Global RSPO, Guntur Cahyo Prabowo, menegaskan bahwa pencapaian ini membuktikan komitmen dan kapasitas petani swadaya Indonesia dalam memenuhi standar keberlanjutan internasional.
“Ketika sistem pemerintah, organisasi petani, proses hukum, dan pelaku pasar berkolaborasi, inklusi dan sertifikasi petani kecil dapat terwujud,” ujar Guntur dalam keterangan tertulisnya.
Pendekatan jalur ganda (dual track) ini menempatkan ISPO sebagai fondasi kepatuhan hukum nasional dan RSPO sebagai standar akses pasar global. Sinergi ini terbukti efektif mengatasi hambatan administratif, menekan biaya pengurusan sertifikasi bagi kelompok tani, sekaligus menyelesaikan masalah legalitas lahan dan kapasitas kelembagaan yang selama ini menjadi kendala kronis petani mandiri.
Manfaat langsung dari sertifikasi ini sudah dirasakan oleh para petani di lapangan. Sulistio, perwakilan Koperasi Konsumen Agro Tani Lestari (KKATL) Sarolangun, mengungkapkan bahwa setelah mendapatkan pelatihan manajemen kebun, produktivitas kelapa sawit mereka meningkat.
“Selama lebih dari setahun ini kami telah menjual tandan buah segar langsung ke PT Inti Guna Nabati melalui perjanjian kemitraan. Harga yang kami terima lebih tinggi dibandingkan petani yang tidak tergabung dalam kemitraan,” kata Sulistio.
Direktur Tanaman Sawit, Direktorat Jenderal Perkebunan, Kementerian Pertanian RI, Dr. Iim Mucharam, S.P., M.P., menyatakan bahwa keberhasilan di Jambi memberikan pelajaran penting bagi tata kelola sawit nasional. Menurutnya, petani swadaya tidak melihat ISPO dan RSPO sebagai dua sistem yang saling bersaing, melainkan sebagai solusi praktis untuk meningkatkan taraf hidup dan memperkuat organisasi.
“Ke depan, tantangan bersama kita adalah bagaimana membuat pencapaian itu lebih efisien, lebih mudah diakses, dan lebih menguntungkan bagi petani,” tutur Iim.
Model kemitraan multipihak yang melibatkan Setara Jambi sebagai mitra pelaksana ini diharapkan tidak menjadi beban tambahan bagi petani kecil. Sebaliknya, skema ini diproyeksikan menjadi acuan nasional bagi daerah lain di Indonesia untuk memperluas akses pasar minyak sawit berkelanjutan yang kian ketat di tingkat global.



























