KEDIRI, SuaraRepublika.id – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Kediri terus mengintensifkan upaya pencegahan penyebaran Demam Berdarah Dengue (DBD) di wilayahnya. Langkah ini diambil menyusul ditemukannya kasus DBD baru di Kelurahan Manisrenggo, Kecamatan Kota Kediri.
Hendik Supriyanto, Kabid P2P Dinkes Kota Kediri menjelaskan bahwa pelaksanaan pengasapan (fogging) di Manisrenggo dilakukan setelah ditemukannya warga yang terkonfirmasi positif DBD berdasarkan hasil pemeriksaan medis dan laporan Kewaspadaan Dini Rumah Sakit (KDRS).
“Di Manisrenggo ada temuan kasus DBD. Dari hasil pemeriksaan Rapid Diagnostic Test (RDT) di Puskesmas dan laporan KDRS Rumah Sakit, tercatat ada pasien positif. Untuk penanganan di lapangan, kami langsung melakukan tindak lanjut berupa Pemberantas Nyamuk (PSN) dan pengasapan (fogging) di lingkungan serta radius sekitar tempat tinggal warga yang terpapar,” ujar Hendik saat ditemui di kantornya.
Hendik menambahkan, penanganan penanggulangan DBD diawali dari laporan diagnosis dokter dan pemeriksaan laboratorium rumah sakit yang merawat pasien. Begitu laporan KDRS diterima, tim Dinkes bersama kader kesehatan setempat langsung bergerak melakukan respons cepat. Mayoritas penderita DBD di Kota Kediri tercatat didominasi oleh kelompok usia anak-anak.
Meskipun masih ditemukan kasus di beberapa titik, data Dinas Kesehatan menunjukkan penurunan angka kasus DBD yang cukup signifikan pada tahun 2026 jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya.
Berdasarkan papan data rekapitulasi kasus DBD Kota Kediri tahun 2022–2026:
- Tahun 2022: Tercatat total 89 kasus (Mojoroto 39, Kota 24, Pesantren 26) dengan 0 kasus meninggal.
- Tahun 2023: Tercatat total 85 kasus (Mojoroto 35, Kota 25, Pesantren 25) dengan 0 kasus meninggal.
- Tahun 2024: Mengalami lonjakan hingga 256 kasus (Mojoroto 99, Kota 67, Pesantren 90) dengan 0 kasus meninggal.
- Tahun 2025: Mereda menjadi 159 kasus (Mojoroto 55, Kota 38, Pesantren 66) dengan 0 kasus meninggal.
- Tahun 2026 (Januari – Agustus): Akumulasi kasus tercatat sebanyak 21 kasus (Mojoroto 10, Kota 3, Pesantren 8) dengan rincian per bulan: Januari (6 kasus), Februari (1 kasus), Maret (2 kasus), April (2 kasus), Mei (6 kasus), Juni (1 kasus), Juli (3 kasus), dan Agustus berjalan (0 kasus).
Pihak Dinkes menyebutkan bahwa penurunan drastis angka DBD tahun ini merupakan buah dari sosialisasi masif yang dilakukan secara berkelanjutan melalui media massa serta peran aktif para kader kesehatan di tingkat RT/RW.
“Alhamdulillah, kasus tahun ini sangat sedikit jika dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Penurunan trend DBD ini tidak hanya terjadi di Kota Kediri, tetapi juga secara umum di beberapa daerah lain. Kami berharap tren penurunan ini dapat terus dipertahankan pada tahun-tahun mendatang,” pungkas Hendik.
Dinkes Kota Kediri mengimbau masyarakat untuk tidak bergantung sepenuhnya pada fogging, melainkan tetap aktif menjalankan Gerakan 3M Plus dan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) secara mandiri di lingkungan rumah masing-masing.































