KEDIRI, SuaraRepublika.id – Jelang pelaksanaan Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama, sejumlah masyayikh dan pengasuh pondok pesantren menggelar pertemuan di Pondok Pesantren Al-Falah Ploso, Kediri, Jawa Timur. Dalam pertemuan tersebut, para ulama mengeluarkan seruan penting untuk menjaga marwah dan hubungan historis antara NU dengan dunia pesantren.
Suasana penuh kekeluargaan menyelimuti Ramah Tamah Masyayikh Nahdlatul Ulama yang digelar di Pondok Pesantren Al-Falah Ploso, Kediri, pada Sabtu, dua puluh Juni dua ribu dua puluh enam. Pertemuan ini menghasilkan seruan resmi dari para ulama pesantren menyikapi dinamika jelang Munas dan Konbes NU mendatang.
Juru bicara para masyayikh, KH. Muhammad Abdurrahman Kautsar, atau yang akrab disapa Gus Kautsar, menegaskan bahwa para ulama meminta agar materi Munas dan Konbes tidak menggeser hubungan historis, kultural, dan spiritual antara NU dengan pesantren.
Secara khusus, para masyayikh mendesak pembatalan usulan perubahan syarat pemilihan Ahlul Halli wal Aqdi atau AHWA, serta pembatalan usulan perubahan aturan rangkap jabatan politik.
“Kami meminta agar pengaturan syarat dan mekanisme pemilihan anggota AHWA tetap menjaga karakter aslinya sebagai forum keulamaan yang bertumpu pada kedalaman ilmu dan akhlak. Oleh karena itu, usulan penambahan syarat calon anggota AHWA yang harus pengurus syuriyah dan berdasarkan representasi kewilayahan, harus dibatalkan. Demikian juga dengan usulan pengubahan larangan rangkap jabatan politik, itu juga harus dibatalkan.”
Selain persoalan regulasi organisasi, Gus Kautsar juga menyampaikan aspirasi para ulama agar pelaksanaan Muktamar NU tahun 2026 dapat dikembalikan ke khittahnya, yaitu diselenggarakan di lingkungan pondok pesantren. Pesantren dinilai sebagai fondasi utama dan rumah besar tempat lahirnya jam’iyah Nahdlatul Ulama.
Di akhir seruannya, para masyayikh mengimbau seluruh peserta dan pimpinan NU yang terlibat dalam Munas dan Konbes untuk tetap mengedepankan adab musyawarah, ketertiban, serta menjaga persatuan jam’iyah demi kemaslahatan umat dan bangsa.































