KEDIRI, SuaraRepublika.id – Unit PPA Sat Reskrim Polres Kediri bersama Anggota Polsek Ngadiluwih melakukan penangkapan terhadap seorang pria berinisial H (63), terduga pelaku tindak pidana asusila pada Sabtu (16/5/2026) malam. Penangkapan tersebut berlangsung dramatis di rumah pelaku yang terletak di Dusun Cakruk, Desa Tales, Kecamatan Ngadiluwih, Kabupaten Kediri. Langkah tegas kepolisian ini diambil menyusul adanya laporan dari para orang tua korban yang resah.
Operasi penangkapan ini dipimpin langsung oleh Kapolsek Ngadiluwih, AKP Budi Winariyanto, bersama Kanit PPA Sat Reskrim Polres Kediri, Ipda Eko Idya S. Petugas bergerak cepat setelah menerima laporan resmi dari para korban yang didampingi perangkat desa pada Kamis (14/5/2026) lalu. Kehadiran aparat di lokasi juga untuk mengantisipasi amuk massa yang mulai geram dengan ulah pelaku.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, pelaku yang merupakan pensiunan guru ini diduga melakukan aksi bejatnya dengan modus mempertontonkan alat kelamin dan melakukan tindakan tidak senonih di depan para korban. Untuk memuluskan aksinya, pelaku juga memberikan iming-iming berupa janji imbalan tertentu kepada anak-anak tersebut. Mirisnya, seluruh korban merupakan warga sekitar dan masih berstatus di bawah umur.
Kasus ini mulai terungkap setelah salah satu korban memberanikan diri bercerita kepada pihak keluarga. Kepala Dusun setempat, Desi Putri, menjelaskan bahwa dari cerita satu anak itulah akhirnya tabir aksi bejat pelaku mulai terbuka lebar. Orang tua yang curiga kemudian mencoba menelusuri kejadian ini ke lingkungan sekitar.
“Awalnya satu anak bercerita di rumah, kemudian setelah ditanya lebih lanjut ternyata ada anak-anak lain yang mengalami hal serupa,” ujar Desi Putri saat memberikan keterangan.
Senada dengan Kepala Dusun, Ketua RT setempat, Murjito, mengungkapkan bahwa jumlah korban awalnya diketahui hanya empat anak. Namun, setelah dilakukan penelusuran lebih mendalam dan komunikasi intensif antar warga, jumlah korban melonjak drastis. Berdasarkan data sementara, diperkirakan ada sekitar 10 anak yang menjadi korban kebiadaban pelaku.
“Pertama empat anak yang melapor. Setelah itu bertambah lagi sampai sekitar 10 anak. Korbannya rata-rata masih anak-anak, paling besar masih SMP kelas 1,” tutur Murjito.
Warga setempat mengaku sangat terpukul dan tidak menyangka dengan adanya kejadian ini. Pasalnya, selama ini terduga pelaku dikenal sebagai sosok tokoh agama dan tokoh masyarakat yang sangat disegani di lingkungannya. Pelaku juga dikenal selalu aktif dalam berbagai kegiatan keagamaan di desa tersebut.
“Warga tidak menyangka sama sekali karena sehari-hari dikenal baik dan halus kepada tetangga,” tambah Murjito dengan nada kecewa.
Sebelum dilaporkan ke polisi, pihak perangkat desa dan pengurus RT sebenarnya telah mengupayakan langkah mediasi. Menurut Kaur Kesra Desa Tales, Arik, pelaku sempat diinterogasi oleh Ketua RT di Masjid Al Mukminah setelah waktu Magrib pada Minggu (10/5/2026). Namun, saat itu pelaku mengelak dan berdalih bahwa yang dilihat warga adalah hantu yang menyerupai dirinya.
Pihak desa kemudian menggelar pertemuan lanjutan di rumah salah satu tokoh agama, H. Anam, serta mengundang orang tua korban untuk merumuskan langkah hukum. Puncaknya pada Rabu (13/5/2026), perangkat desa kembali menggelar mediasi formal, namun terduga pelaku mangkir dari undangan tersebut. Karena tidak ada itikad baik, para orang tua korban akhirnya resmi melapor ke Polres Kediri pada Kamis pagi.
Saat proses penangkapan berlangsung pada Sabtu malam sekitar pukul 19.30 WIB, situasi di sekitar rumah pelaku sempat memanas. Ratusan warga yang mayoritas merupakan masyarakat sekitar tampak mengepung lokasi kejadian. Massa yang emosi berkumpul untuk melihat langsung proses evakuasi tokoh agama yang kini berstatus terduga pelaku tersebut.
Guna menghindari aksi main hakim sendiri, personel gabungan dari unit Reskrim, Intelkam, Samapta, hingga Provost Polsek Ngadiluwih bersiaga di lokasi. Tepat pada pukul 19.45 WIB, pelaku berhasil diamankan dari dalam rumahnya dan langsung dievakuasi ke Mapolres Kediri. Sekitar pukul 20.30 WIB, ketegangan mereda setelah petugas berhasil membubarkan massa secara persuasif hingga situasi kembali aman dan kondusif.























