BANGKALAN, SuaraRepublika.id – Suara dentang besi terdengar nyaring di aula Institut Agama Islam Syaichona Mohammad Cholil Bangkalan, Madura, Senin (23/6/2026). Sebanyak sembilan kali pukulan Presiden RI Prabowo Subianto menggetarkan kenteng—lonceng besi tradisional yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan Pondok Pesantren Al-Falah Ploso, Kediri.
Prosesi itu menandai berakhirnya rangkaian Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) Nahdlatul Ulama (NU) 2026.
“Saya Prabowo Subianto, Presiden RI, dengan ini secara resmi tutup Munas dan Konbes NU 2026. Terima kasih,” ujar Prabowo usai membunyikan kenteng yang disambut tepuk tangan ribuan peserta dan undangan.
Namun, di balik dentang tersebut tersimpan kisah panjang yang melampaui sekadar tradisi pesantren. Kenteng yang digunakan dalam prosesi itu bukan dibuat dari besi biasa, melainkan berasal dari bagian selongsong bom peninggalan masa perang kemerdekaan yang gagal meledak.
Benda yang semula dirancang sebagai alat penghancur tersebut justru bertransformasi menjadi penanda ibadah dan aktivitas pendidikan para santri di Pondok Pesantren Al-Falah Ploso.
Kisah kenteng itu bermula pada masa penjajahan Belanda. Berdasarkan cerita yang berkembang di lingkungan pesantren, kompleks Al-Falah Ploso pernah menjadi sasaran serangan udara karena dianggap sebagai salah satu tempat yang mendukung perjuangan mempertahankan kemerdekaan.
Bom-bom dijatuhkan ke sekitar area pesantren. Namun, bom tersebut tidak meledak. Peristiwa itu kemudian diyakini keluarga besar pesantren sebagai bagian dari karomah pendiri Pondok Pesantren Al-Falah Ploso, KH Ahmad Djazuli Utsman.
Pengasuh Pondok Pesantren Mamba’ul Ma’arif Denanyar, KH Abdussalam Shohib atau Gus Salam, yang juga merupakan alumni Al-Falah Ploso, menjelaskan bahwa material bom tersebut kemudian dimanfaatkan menjadi kenteng.
“Dulu ceritanya ketika zaman Belanda di belakang Pondok Ploso ini pernah ada bom yang dikirim Belanda. Alhamdulillah, mungkin karena karomah para masyayikh, bom itu tidak meledak,” ujar Gus Salam.
Setelah masa perang berakhir, potongan logam bom tersebut tidak dibiarkan menjadi besi tua. Pada sekitar dekade 1950-an, material itu diolah menjadi kenteng yang hingga kini masih digunakan di lingkungan pesantren.
Bagi santri Al-Falah Ploso, kenteng bukan sekadar benda bersejarah. Suaranya menjadi bagian dari keseharian pesantren, mulai dari penanda masuk waktu salat berjemaah, panggilan mengaji, hingga berbagai kegiatan santri.
“Jadi mau ngaji itu dikenteng, mau salat jamaah dikenteng. Memang kenteng itu khasnya Ploso,” kata Gus Salam.
Tradisi tersebut bahkan meninggalkan kenangan tersendiri bagi para santri lama. Gus Salam mengaku, pada masa menjadi santri, kesempatan membunyikan kenteng menjadi sesuatu yang diperebutkan.
“Kami dulu sampai berebut mengenteng. Bahkan saya pernah membawa pentungannya ke kamar supaya tidak didahului teman-teman,” kenangnya.
Menurut Gus Salam, keberadaan kenteng mengandung pesan tentang bagaimana sesuatu yang awalnya membawa ancaman dapat diubah menjadi sesuatu yang memberi manfaat.
“Kenteng yang harusnya jadi bom, yang harusnya mudarat, setelah dimodifikasi malah menjadi manfaat sebagai penanda waktu salat dan pengajian,” ujarnya.
Nilai filosofi itulah yang kemudian ikut mewarnai pembukaan dan penutupan Munas-Konbes NU 2026. Sembilan kali dentang kenteng dipilih sebagai simbol identitas NU yang lekat dengan lambang bintang sembilan serta penghormatan terhadap perjuangan Wali Songo dalam penyebaran Islam di Nusantara.
Presiden Prabowo dalam sambutannya juga menyinggung peran NU dalam perjalanan bangsa. Ia menyebut NU sebagai organisasi keagamaan yang memiliki semangat nasionalisme dan menjadi salah satu kekuatan penjaga stabilitas Indonesia.
“Keluarga besar NU adalah faktor stabilisator, faktor yang bisa membuat aman bangsa dan negara. NU adalah organisasi keagamaan, tapi sangat nasionalis, sangat patriotis, sangat cinta tanah air,” kata Prabowo.
Ia juga mengapresiasi semangat kebangsaan yang tercermin dalam lagu “Syubbanul Wathon” yang kerap dinyanyikan dalam berbagai kegiatan NU.
“Nyanyinya itu tangannya harus kepalan. Ini luar biasa, belum ada Kopassus (saat itu), NU sudah lebih dari Kopassus,” ujar Prabowo disambut tawa dan tepuk tangan hadirin.
Kini, setelah mengiringi penutupan Munas-Konbes NU 2026 di Bangkalan, kenteng tersebut kembali ke Pondok Pesantren Al-Falah Ploso. Kembali menjadi penanda waktu bagi para santri.
Dari sebuah benda yang pernah membawa ancaman kehancuran, kenteng itu menjelma menjadi simbol kehidupan pesantren: mengingatkan bahwa sejarah, ketika dirawat dengan nilai dan kebijaksanaan, dapat berubah menjadi warisan penuh makna.































