KEDIRI, SuaraRepublika.id – Pernahkah Anda terbangun di tengah malam atau dini hari saat musim kemarau dan merasa udara begitu menusuk tulang? Padahal, siangnya matahari bersinar terik luar biasa. Jangan bingung, fenomena alamiah ini dikenal dengan istilah Bediding.
Mari kita bedah mengapa fenomena unik ini bisa terjadi dan bagaimana cara menghadapinya dengan nyaman!
Apa Itu Fenomena Bediding?
Bediding adalah kondisi di mana suhu udara drop secara signifikan, menjadi jauh lebih dingin pada malam hingga dini hari di musim kemarau.
Meskipun terdengar seperti anomali, fenomena ini sebenarnya adalah kejadian alamiah yang sangat erat kaitannya dengan kondisi atmosfer khas musim kemarau. Wilayah yang paling sering merasakan dampak ini adalah daerah pegunungan dan dataran tinggi, seperti Dataran Tinggi Dieng, serta wilayah lain di Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Nusa Tenggara Timur (NTT).
Berdasarkan data BMKG pada periode 1–11 Juni 2026, tercatat beberapa suhu minimum yang cukup ekstrem di Indonesia, di antaranya:
- Nusa Tenggara Timur: Suhu berkisar antara 9,3°C hingga 14°C
- Papua Tengah: Mencapai 14,4°C
- Jawa Timur: Menyentuh angka 13,2°C
Fenomena “musim dingin” khas Indonesia ini diperkirakan akan berlangsung hingga September, seiring dengan aktifnya Monsun Australia.
Mengapa Udara Bisa Menjadi Begitu Dingin?
Ada beberapa faktor utama yang berkolaborasi menciptakan sensasi dingin ini:
1. Peran Angin Monsun Australia
Secara regional, musim kemarau di Indonesia dipengaruhi oleh aktivitas Angin Monsun Australia. Angin ini bertiup membawa massa udara yang bersifat kering dan dingin dari Benua Australia menuju Indonesia, memperkuat efek pendinginan di permukaan bumi, khususnya di bagian selatan garis khatulistiwa.
2. Langit Cerah Tanpa Awan
Pernah memperhatikan mengapa siang hari terasa sangat terik namun malamnya sangat dingin? Saat kemarau, langit cenderung bersih dari awan.
- Siang Hari: Tanpa penghalangan awan, radiasi matahari langsung memanaskan bumi secara maksimal.
- Malam Hari: Sebaliknya, bumi melepaskan panas kembali ke atmosfer. Karena tidak ada “selimut” awan yang menahan panas tersebut, radiasi panas langsung terlepas bebas ke luar angkasa. Proses pendinginan radiasi yang sangat kuat inilah yang membuat suhu malam hari anjlok drastis.
3. Faktor Topografi Lokal
Bentuk permukaan bumi juga ikut ambil bagian. Di daerah lembah atau dataran tinggi yang dikelilingi pegunungan, udara dingin yang memiliki massa lebih berat akan mengalir turun dan terperangkap di cekungan. Hal inilah yang menciptakan efek pendinginan lokal yang jauh lebih terasa dan signifikan.
Tips Sehat Menghadapi Bediding dari BMKG
Meskipun Bediding bukan fenomena cuaca yang berbahaya, perubahan suhu yang kontras antara siang dan malam tetap memerlukan kewaspadaan agar kondisi tubuh tidak tumbang.
Berikut adalah beberapa imbauan dari BMKG untuk menjaga kesehatan Anda:
- Jaga Imunitas Tubuh: Tingkatkan daya tahan tubuh dengan mengonsumsi nutrisi yang cukup dan perbanyak minum minuman hangat di malam hari.
- Gunakan Pelembap Kulit: Udara kering dan dingin dapat membuat kulit Anda kehilangan kelembapan alami. Gunakan lotion atau pelembap untuk mencegah kulit kering dan pecah-pecah.
- Gunakan Pakaian Tebal: Selalu siapkan jaket atau selimut ekstra, terutama jika Anda beraktivitas di luar ruangan pada malam hari.





























