JAKARTA, SuaraRepublika.id – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) merilis prediksi terbaru terkait musim kemarau tahun 2026. Dalam konferensi pers yang digelar beberapa waktu lalu, BMKG memperingatkan masyarakat untuk bersiap menghadapi musim kemarau yang datang lebih awal, lebih kering, dan memiliki durasi yang lebih panjang dibandingkan kondisi normalnya.
Kepala BMKG, Prof. Teuku Faisal Fathani, Ph.D., mengungkapkan bahwa mayoritas wilayah Indonesia akan terdampak fenomena ini.
“Sebagian besar wilayah Indonesia, atau sekitar 400 zona musim (57,2%), diprediksi akan mengalami musim kemarau yang lebih panjang dari normalnya,” ujar Prof. Faisal.
Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Dr. Ardhasena Sopaheluwakan, M.Sc., merinci jadwal masuknya musim kemarau di berbagai zona musim (ZOM) di Indonesia:
- April 2026: Sebanyak 144 ZOM (16,3%) mulai memasuki musim kemarau.
- Mei 2026: Sebanyak 184 ZOM (26,3%) menyusul masuk ke fase kemarau.
- Juni 2026: Sebanyak 163 ZOM (23,3%) diprediksi mulai mengalami kekeringan.
BMKG juga menyoroti bahwa sifat kemarau tahun ini cenderung lebih ekstrem. Sebanyak 451 zona musim (64,5%) diprediksi akan mengalami kemarau dengan kategori Bawah Normal atau jauh lebih kering dari rata-rata klimatologisnya. Sementara itu, 245 zona musim (35%) diprediksi berada pada kondisi normal, dan hanya sebagian kecil (0,4%) yang berada di atas normal.
Wilayah yang diprediksi terdampak paling signifikan meliputi sebagian besar Sumatera, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, sebagian Sulawesi, Maluku, hingga Papua.
Dengan adanya prediksi ini, BMKG mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat untuk melakukan langkah mitigasi, terutama terkait ketersediaan air bersih, sektor pertanian, serta pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).




























