KEDIRI, SuaraRepublika.id – Terik matahari di siang hari Kota Kediri seolah menemukan penawarnya di sudut Pasar Selowarih. Di sana, sebuah kedai sederhana tampak tak pernah sepi dari pengunjung. Bukan sekadar pelepas dahaga biasa, Kedai Es Campur Pak Cipto adalah potongan sejarah kuliner yang telah eksis sejak tahun 1980.
Selama lebih dari empat dekade, rasa yang disajikan di sini tetap konsisten. Sang pendiri, Sucipto, pria asal Jalan Setono, Kelurahan Ngadirejo, adalah sosok di balik racikan legendaris ini. Ia mengenang kembali masa-masa awal saat dirinya merintis usaha.
“Waktu itu di kawasan sini belum ada yang menjual es campur,” kenang Sucipto.
Menariknya, Sucipto membangun resepnya secara otodidak. Ia berkelana ke berbagai daerah hanya untuk mencicipi berbagai jenis es, mempelajari rasanya, lalu pulang untuk meracik formula miliknya sendiri. Keberaniannya mencoba-coba resep itu kini membuahkan hasil; sebuah usaha yang tidak hanya bertahan, tapi menjadi ikon kuliner lokal.
Apa yang membuat Es Campur Pak Cipto berbeda dari es campur pada umumnya? Rahasianya terletak pada harmonisasi tekstur dan rasa.
“Satu porsi es campur di sini terdiri dari paduan ketan hitam yang legit, kacang hijau yang empuk, degan (kelapa muda), serta potongan buah semangka segar. Semua bahan tersebut kemudian disiram dengan kuah santan gurih dan sirup manis, menciptakan perpaduan rasa yang unik dan menyegarkan,” Jelas Sucipto.
Keunikan inilah yang menarik minat Lilik Wahyuni, salah satu pembeli yang datang karena penasaran setelah melihat kedai ini viral di media sosial.
“Rasa es campurnya punya kesegaran tersendiri. Apalagi ada ketan hitam yang dicampur dengan buah semangka, itu jarang ditemukan di tempat lain,” ujar Lilik saat menikmati pesanannya di tengah cuaca panas.
Meski telah berusia 46 tahun, popularitas Es Campur Pak Cipto tidak meredup. Sebaliknya, pelanggan justru kian meluas. Sucipto mengaku bahwa di hari biasa ia rutin menghabiskan hingga 6 kilogram ketan hitam dan kacang hijau. Jumlah ini meningkat drastis saat akhir pekan tiba, di mana pembeli dari luar daerah mulai berdatangan.
Di tengah gempuran minuman kekinian, Sucipto tetap mempertahankan harga yang sangat merakyat. Cukup dengan merogoh kocek sebesar Rp4.000, pengunjung sudah bisa menikmati satu porsi kesegaran legendaris ini.
Bagi Anda yang ingin mencicipi sensasi kesegaran klasik ini, Kedai Es Campur Pak Cipto di Pasar Selowarih buka setiap hari mulai pukul 09.00 hingga 17.00 WIB. Sebuah destinasi wajib bagi pecinta kuliner yang berkunjung ke Kota Tahu.KEDIRI, SuaraRepublika.id – Terik matahari di siang hari Kota Kediri seolah menemukan penawarnya di sudut Pasar Selowarih. Di sana, sebuah kedai sederhana tampak tak pernah sepi dari pengunjung. Bukan sekadar pelepas dahaga biasa, Kedai Es Campur Pak Cipto adalah potongan sejarah kuliner yang telah eksis sejak tahun 1980.
Selama lebih dari empat dekade, rasa yang disajikan di sini tetap konsisten. Sang pendiri, Sucipto, pria asal Jalan Setono, Kelurahan Ngadirejo, adalah sosok di balik racikan legendaris ini. Ia mengenang kembali masa-masa awal saat dirinya merintis usaha.
“Waktu itu di kawasan sini belum ada yang menjual es campur,” kenang Sucipto.
Menariknya, Sucipto membangun resepnya secara otodidak. Ia berkelana ke berbagai daerah hanya untuk mencicipi berbagai jenis es, mempelajari rasanya, lalu pulang untuk meracik formula miliknya sendiri. Keberaniannya mencoba-coba resep itu kini membuahkan hasil; sebuah usaha yang tidak hanya bertahan, tapi menjadi ikon kuliner lokal.
Apa yang membuat Es Campur Pak Cipto berbeda dari es campur pada umumnya? Rahasianya terletak pada harmonisasi tekstur dan rasa.
“Satu porsi es campur di sini terdiri dari paduan ketan hitam yang legit, kacang hijau yang empuk, degan (kelapa muda), serta potongan buah semangka segar. Semua bahan tersebut kemudian disiram dengan kuah santan gurih dan sirup manis, menciptakan perpaduan rasa yang unik dan menyegarkan,” Jelas Sucipto.
Keunikan inilah yang menarik minat Lilik Wahyuni, salah satu pembeli yang datang karena penasaran setelah melihat kedai ini viral di media sosial.
“Rasa es campurnya punya kesegaran tersendiri. Apalagi ada ketan hitam yang dicampur dengan buah semangka, itu jarang ditemukan di tempat lain,” ujar Lilik saat menikmati pesanannya di tengah cuaca panas.
Meski telah berusia 46 tahun, popularitas Es Campur Pak Cipto tidak meredup. Sebaliknya, pelanggan justru kian meluas. Sucipto mengaku bahwa di hari biasa ia rutin menghabiskan hingga 6 kilogram ketan hitam dan kacang hijau. Jumlah ini meningkat drastis saat akhir pekan tiba, di mana pembeli dari luar daerah mulai berdatangan.
Di tengah gempuran minuman kekinian, Sucipto tetap mempertahankan harga yang sangat merakyat. Cukup dengan merogoh kocek sebesar Rp4.000, pengunjung sudah bisa menikmati satu porsi kesegaran legendaris ini.
Bagi Anda yang ingin mencicipi sensasi kesegaran klasik ini, Kedai Es Campur Pak Cipto di Pasar Selowarih buka setiap hari mulai pukul 09.00 hingga 17.00 WIB. Sebuah destinasi wajib bagi pecinta kuliner yang berkunjung ke Kota Tahu.






























