KEDIRI, SuaraRepublika.id – Pemerintah Kota (Pemkot) Kediri bersama Konsultan Manajemen Proyek dan Pengawasan menegaskan bahwa proyek pembangunan jalan tol di wilayahnya tidak mengalami kemangkrakan. Klarifikasi tersebut disampaikan dalam konferensi pers yang digelar di lokasi proyek jalan tol, Jalan Mayor Bismo, Kota Kediri.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Kediri, Endang Kartika Sari, membantah anggapan bahwa pihak Pemkot menghambat proses perizinan pemanfaatan lahan tahap berikutnya. Menurutnya, sikap hati-hati yang diambil Pemkot murni dilakukan untuk menjaga aset daerah serta memastikan kepatuhan terhadap regulasi yang berlaku.
Endang menjelaskan, izin tahap pertama untuk 36 bidang lahan Pemkot sebenarnya telah diterbitkan sejak lama. Namun, hingga saat ini proses penggantian lahan tersebut belum kunjung direalisasikan oleh Badan Usaha Jalan Tol (BUJT).
“Pemkot Kediri tidak pernah menghambat pembangunan jalan tol, proyek tetap berjalan. Namun, jika kami didesak mengeluarkan izin baru untuk tahap kedua, tentu belum bisa. Jangan sampai menyalahi aturan, sebab kewajiban penggantian lahan tahap sebelumnya saja belum diselesaikan oleh BUJT,” tegas Endang.
Selain masalah ganti rugi aset, Pemkot Kediri juga menyoroti aturan ketat terkait Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B). Sesuai regulasi Kementerian ATR/BPN, penggantian lahan pertanian beririgasi aktif yang terdampak wajib diganti dengan lahan setara di wilayah administratif Kota Kediri, dengan skema penggantian hingga tiga kali lipat dari luas lahan terdampak.
Mengingat terbatasnya lahan baku sawah di Kota Kediri, isu ini menjadi perhatian krusial demi menjaga ketahanan pangan daerah.
“Kami hanya menunggu kepastian kebijakan dari pemerintah pusat dan komitmen penyelesaian penggantian lahan dari BUJT, agar seluruh proses perizinan selanjutnya bisa melangkah dengan aman dan legal,” tambah Endang.
Pada kesempatan yang sama, Konsultan Manajemen Proyek dan Pengawasan (Project Management and Supervision Consultant), Mamik R., memastikan pengerjaan fisik di lapangan terus berjalan aktif. Saat ini, tim memfokuskan pengerjaan pada titik vital Seksi 2 kawasan Grogol, penataan struktur jembatan penyeberangan, serta pembangunan jalan rigid beton sepanjang 1,6 kilometer menuju Bandara Dhoho.
“Seluruh alat berat sedang beroperasi aktif. Pengerjaan struktur Jembatan Brantas memang membutuhkan presisi dan waktu ekstra, sehingga target penuntasan kita tetapkan pada kuartal kedua tahun depan,” jelas Mamik.
Pemerintah Kota Kediri dan pihak pengawas mengimbau masyarakat agar tidak terpengaruh oleh isu-isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan, seiring berkembangnya komunikasi intensif antara Pemkot Kediri, BUJT, dan Kementerian ATR/BPN.































