KEDIRI, Suararepublika.id – Suasana di sekitar Jembatan Wijaya Kusuma (JWK), Desa Banggle, Kecamatan Ngadiluwih, mendadak berubah menjadi lautan manusia pada Senin (18/5/2026) malam. Warga dari berbagai penjuru desa bahkan luar kecamatan berdatangan demi menyaksikan fenomena tahunan ‘pladu’ atau flushing (penggelontoran) Sungai Brantas.
Pantauan di lokasi sejak pukul 19.30 WIB, kawasan jembatan tersebut bertransformasi layaknya pasar malam dadakan. Tidak hanya para pencari ikan yang bersiap dengan jaring dan serok, masyarakat umum juga memadati area bantaran sungai sekadar untuk menikmati keramaian dan menonton momen ini.
Kondisi ini membawa berkah tersendiri bagi para pedagang musiman yang langsung menggelar lapak di bawah jembatan hingga sepanjang jalan menuju JWK sejak sore hari. Mereka memanfaatkan tingginya antusiasme masyarakat yang rela bertahan hingga larut malam demi menunggu ikan-ikan sungai Brantas mabuk atau teler.
“Acara ini ada setiap tahun dan selalu sangat ramai. Ini menjadi kesempatan berharga bagi kami untuk mengais rezeki, karena warga yang datang menonton rata-rata menunggu di sini berjam-jam sampai larut malam,” ujar Sunarti, salah seorang pedagang asal Kandat yang meraup untung dari keramaian tersebut.
Sepanjang malam, hilir mudik kendaraan memadati jembatan, di mana banyak pengendara sengaja berhenti hanya untuk menanyakan kondisi air sungai. “Apakah sudah ada tanda-tanda ikan mabuk?” tanya seorang pengendara penasaran dari atas jembatan kepada para pencari ikan di bawah.
Pertanyaan itu pun kerap disambut dengan canda gurau khas warga yang mencairkan suasana di tengah malam. “Seng mabuk seng golek.. ngenteni gak teko-teko (yang mabuk yang mencari.. ditunggu tidak datang-datang),” celetuk salah satu pencari ikan dari bawah jembatan yang langsung disambut tawa riang warga lainnya.
Sembari tertawa, warga lain menyahut, “Sing teko buaaanyak sing delok pladu (yang datang banyak sekali yang menonton pladu).” Gurauan dan canda tawa ini menggambarkan betapa meriah dan penuh keakraban suasana di sekitar Jembatan Wijaya Kusuma malam itu.
Fenomena berburu ikan pladu ini ternyata tidak hanya berpusat di Ngadiluwih saja. Berdasarkan pantauan sekitar pukul 19.00 WIB, antusiasme serupa yang tidak kalah luar biasa juga terlihat di area penyeberangan (tambangan) Brantas, Desa Mlati, Kecamatan Mojo, di mana ratusan warga bersiaga di pinggir sungai.
Memasuki pukul 21.30 WIB, tensi keseruan di JWK semakin meningkat setelah salah satu pencari ikan memberikan tanda bahwa dirinya berhasil mendapatkan tangkapan. Sontak, hal tersebut memicu semangat ratusan warga lainnya yang langsung berbondong-bondong turun mendekati aliran sungai.
Menjelang tengah malam pukul 23.30 WIB, kondisi air sungai mulai membumbung atau mobal, menandakan ikan-ikan mulai bermunculan ke permukaan akibat arus penggelontoran. Jumlah pencari ikan yang terjun ke sungai pun semakin malam justru semakin bertambah banyak.
“Di JWK alhamdulillah kami juga dapat ikan, walau tidak sebanyak yang kami harapkan sampai dua karung. Hanya dapat mungkin sekitar 5 kilogram saja, dan sekarang saya berencana mau geser berburu ke area dermaga,” ungkap Pak Sugeng, salah seorang warga Semen saat dimintai keterangan di lokasi.
Guna mengantisipasi kemacetan dan menjaga keselamatan, jajaran kepolisian dari Polsek Ngadiluwih tampak bersiaga di lokasi untuk memantau situasi dan mengatur arus lalu lintas. Aparat mengimbau warga tetap berhati-hati mengingat aktivitas di bantaran sungai Brantas meningkat drastis selama proses flushing berlangsung.































