KEDIRI, SuaraRepublika.id – Sektor peternakan di Kabupaten Kediri kembali bergeliat melalui gelaran Kontes Ternak Kabupaten Kediri 2026 yang dipusatkan di Lapangan Desa Wonorejo, Kecamatan Wates. Ratusan peternak antusias membawa sapi-sapi terbaik mereka untuk memperebutkan gelar juara dalam ajang yang berlangsung pada Selasa hingga Rabu (5-6 Mei 2026).
Pemerintah Kabupaten Kediri melalui Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan (DKPP) menghidupkan kembali tradisi ini setelah sempat vakum cukup lama. Ajang ini menjadi momentum penting untuk memamerkan kualitas unggul ternak lokal sekaligus memotivasi para peternak di wilayah tersebut.
Plt. Kepala DKPP Kabupaten Kediri, drh. Tutik Purwaningsih, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan edisi perdana sejak terakhir kali digelar pada tujuh tahun silam. Kondisi kesehatan ternak yang membaik menjadi alasan utama beraninya penyelenggaraan acara besar ini.
“Ini merupakan event kontes ternak pertama setelah Covid dan PMK, terakhir kita laksanakan tahun 2019,” ujar Tutik saat memantau langsung persiapan di lokasi, Selasa (5/5/2026).
Menurut Tutik, penurunan drastis kasus penyakit hewan menjadi kabar baik bagi dunia peternakan Kediri. Ia menegaskan bahwa saat ini wilayah Kabupaten Kediri sudah berada pada posisi yang sangat aman untuk lalu lintas ternak.
“Alhamdulillah kondisi PMK saat ini sudah menurun, bahkan Kabupaten Kediri saat ini *zero* PMK,” imbuhnya dengan nada optimistis.
Tercatat sebanyak 134 ekor sapi sudah berada di lapangan untuk mengikuti seleksi ketat di berbagai kategori. Jumlah ini disebut sebagai representasi kecil dari total populasi sapi potong di Kabupaten Kediri yang saat ini mencapai angka fantastis, yakni sekitar 215.000 ekor.
Pihak panitia menyiapkan 10 kategori perlombaan, dengan fokus utama pada sapi Peranakan Ongole (PO). Sapi jenis ini dipilih karena merupakan plasma nutfah asli Indonesia yang masih dibudidayakan secara konsisten oleh masyarakat Kediri hingga saat ini.
Selain kelas asli (PO), panitia juga melombakan kategori hasil persilangan melalui program Inseminasi Buatan (IB) serta kategori ‘Sapi Ekstrem’. Kategori terakhir ini diprediksi akan menjadi magnet utama karena menampilkan sapi-sapi dengan bobot raksasa hasil perawatan maksimal.
“Kami mengambil sapi PO karena merupakan sapi khas Indonesia. Selain itu, ada kategori ekstrem sebagai apresiasi bagi peternak yang berhasil melakukan perawatan hingga mencapai bobot maksimal,” tutup Tutik. (Eko)































