KEDIRI, SuaraRepublika.id – Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Irjen Pol (Purn) Sony Sanjaya, membuka suara terkait polemik anggaran sebesar Rp113 miliar yang dialokasikan untuk jasa Event Organizer (EO). Hal tersebut disampaikan Sony di sela agenda peresmian Dapur Satuan Pelayanan Program Gizi (SPPG) di Pondok Pesantren Lirboyo, Kota Kediri, jawa Timur, Selasa (14/4/2026).
Sony menjelaskan bahwa penggunaan jasa EO tersebut dilakukan untuk mendukung kelancaran berbagai kegiatan di lingkup Badan Gizi Nasional. Menurutnya, langkah ini diambil sebagai solusi atas keterbatasan sarana dan prasarana (sarpras) yang dimiliki lembaga saat itu.
“Pada saat kejadian itu, Badan Gizi Nasional baru berdiri beberapa bulan dan belum memiliki sarana prasarana yang memadai. Oleh sebab itu, demi berjalannya kegiatan BGN, kami menggunakan jasa event organizer,” ujar Sony Sanjaya.
Lebih lanjut, Sony mengungkapkan bahwa pemilihan pihak ketiga atau EO didasarkan pada pertimbangan teknis dan akuntabilitas. Ia menilai EO memiliki kemampuan untuk menyusun perincian kegiatan secara lebih mendalam dan detail.
“Kami memilih tersebut karena EO memiliki perincian kegiatan yang lebih detail, sehingga segala sesuatunya tetap bisa dipertanggungjawabkan secara transparan,” imbuhnya.
Meski anggaran tersebut tergolong besar, Sony menegaskan bahwa penggunaan jasa EO ini tidak berlaku secara menyeluruh di seluruh wilayah Indonesia. Kebijakan tersebut hanya dilakukan untuk kegiatan yang berpusat di Jakarta.
“Penggunaan jasa event organizer ini hanya ada di Jakarta saja. Untuk di daerah-daerah lain, seperti di Kediri ini, tidak menggunakan jasa tersebut,” pungkasnya.
Sebelumnya, alokasi anggaran ratusan miliar untuk jasa EO di tubuh Badan Gizi Nasional sempat menjadi sorotan publik.































