KEDIRI, SuaraRepublika.id – Di balik perawakan remajanya yang tampak tenang, Jesselyn Michelle Setiobudi (15) adalah sosok yang disegani dalam kancah matematika internasional. Remaja asal Kota Kediri ini bukan sekadar peserta biasa, ia adalah pemegang peringkat pertama dunia dengan koleksi lebih dari 50 medali internasional, termasuk emas di ajang bergengsi International Junior Mathematics Olympiad 2025 di Shenzhen, China.
Namun bagi putri pasangan Yimmy Stephanoes dan Afriana Tanri Sudarno ini, deretan medali emas itu hanyalah sebuah awal. Kini, di sela-sela kesibukannya menempuh pendidikan tingkat SMA melalui jalur beasiswa di Singapura, ia memilih untuk “pulang” secara intelektual ke tanah kelahirannya.
Melalui lembaga non-profit bernama Future Minds, Jesselyn mendedikasikan waktu dan ilmunya untuk melatih siswa-siswi di Kediri, termasuk di SMPN 1 Kota Kediri. Tidak tanggung-tanggung, ia memberikan bimbingan matematika khusus dengan kurikulum standar olimpiade internasional secara cuma-cuma alias gratis.
“Tujuan kami adalah melatih anak-anak, terutama di kota kecil di Indonesia, untuk meraih prestasi di olimpiade matematika, harapannya, mereka bisa meraih lebih banyak kesuksesan di bidang pendidikan di masa depan,” ujar Jesselyn saat ditemui dalam sebuah sesi berbagi.
Keputusan Jesselyn untuk membuka bimbingan gratis ini bukan tanpa alasan. Ia mengaku pernah merasakan sulitnya mendapatkan akses informasi mengenai kompetisi tingkat dunia saat masih bersekolah di Kediri.
“Berdasarkan pengalaman saya dulu, di Kediri sedikit susah untuk mendapatkan informasi dan pengetahuan tentang olimpiade ini. Saya baru benar-benar mengenalnya lebih dalam saat berada di Malang dan Singapura,” kenangnya.
Kesadaran itulah yang memicu empati Jesselyn. Ia meyakini bahwa banyak talenta hebat di Kediri yang sebenarnya mampu bersaing di panggung global, namun terhambat oleh kurangnya wawasan dan bimbingan yang tepat.
Kini, Future Minds telah berkembang pesat. Sebanyak 200 siswa dari lebih 20 sekolah di bawah naungannya rutin mengikuti pelatihan intensif setiap minggu secara daring. Jesselyn sendiri terjun langsung memantau perkembangan mereka berdasarkan jenjang kelas masing-masing.
Hasilnya pun mulai terlihat nyata. Beberapa siswa binaannya mulai mengikuti jejak sang mentor dengan menyabet medali emas dan perak di berbagai olimpiade internasional.
Bagi Jesselyn, melihat adik-adik kelasnya berani melangkah ke panggung dunia adalah kepuasan yang tidak bisa dinilai dengan medali apapun. Ia ingin membuktikan bahwa dari sebuah kota kecil di Jawa Timur, bisa lahir generasi-generasi jenius yang siap mengharumkan nama bangsa melalui jalur pendidikan.





























