KEDIRI, Suararepublika.id – Warga Desa Karangtengah, Kecamatan Kandangan, Kabupaten Kediri Jawa Timur digegerkan atas adanya bau busuk dari dalam sebuah rumah. Belakangan diketahui terdapat jenazah seorang pria bernama Sugiono (63). Saat ditemukan, kondisi jenazah sudah mulai membusuk dan diperkirakan telah meninggal sejak lima hari lalu.
Peristiwa ini terungkap pertama kali sekitar pukul 12.00 WIB setelah warga sekitar mencium aroma tidak sedap yang menyengat dari arah rumah korban. Warga yang curiga kemudian melapor kepada perangkat desa setempat.
Karena pintu rumah dalam keadaan terkunci dari dalam, warga bersama petugas terpaksa melakukan upaya paksa dengan mendobrak pintu. Korban ditemukan sudah tidak bernyawa di ruang tengah.
“Warga curiga karena korban tidak terlihat keluar rumah sejak Sabtu lalu. Tadi siang bau busuk mulai menyengat, sehingga kami putuskan mendobrak pintu,” ujar Sugianto (54), salah satu saksi di lokasi.
Pihak Polsek Kandangan bersama Tim Inafis Polres Kediri dan tenaga medis Puskesmas Kandangan segera melakukan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP). Berdasarkan pemeriksaan luar yang dipimpin AKP Hendi Septiadi dan dr. Deny dari Puskesmas Kandangan, petugas tidak menemukan adanya tanda-tanda kekerasan pada tubuh korban.
Aipda Basuki Rahmat, anggota Polsek Kandangan, menyatakan bahwa kematian korban diduga kuat akibat penyakit penyerta.
“Kematian korban diduga akibat penyakit hipertensi atau darah tinggi yang dideritanya. Pihak keluarga juga sudah menerima kejadian ini sebagai musibah,” jelas Basuki.
Keluarga korban, yang diwakili oleh anaknya, Harti (45), menolak dilakukan otopsi dan telah menandatangani surat pernyataan resmi. Sekitar pukul 14.30 WIB, jenazah diserahkan kepada keluarga untuk proses pemulasaraan dan pemakaman.
Sebagai langkah kesehatan lingkungan, petugas langsung melakukan sanitasi dan disinfeksi total di lokasi penemuan jenazah guna mencegah penyebaran bakteri akibat proses pembusukan. Pihak kepolisian juga mengimbau warga untuk lebih meningkatkan kepedulian terhadap tetangga yang tinggal sendirian guna mengantisipasi kejadian serupa. (Eko)





























