BLITAR, SuaraRepublika.id – Bursa pemilihan Ketua Umum KONI Kota Blitar periode 2026–2030 resmi mengerucut pada dua nama besar. Tony Andreas, mantan Ketua KONI Kabupaten Blitar, dipastikan akan berhadapan langsung dengan mantan Wali Kota Blitar, Samanhudi Anwar.
Ketua Tim Penjaringan dan Penyaringan (TPP), Slamet Heriyoso Seputro, mengonfirmasi bahwa hanya dua tokoh tersebut yang lolos verifikasi hingga pendaftaran ditutup. Keduanya kini bersiap memperebutkan suara pada Musyawarah Olahraga Kota (Musorkot) yang dijadwalkan berlangsung 19 Mei 2026 mendatang.
Persaingan ini sempat diwarnai isu regulasi, namun TPP memastikan kedua kandidat telah memenuhi syarat hukum. Samanhudi dinyatakan sah mencalonkan diri menyusul dicabutnya aturan pelarangan mantan narapidana dalam Permenpora Nomor 14 Tahun 2024, yang kini digantikan oleh Permenpora Nomor 7 Tahun 2026.
Di sisi lain, status Tony Andreas yang sudah menjabat dua periode di Kabupaten Blitar juga dinyatakan *clear*. Aturan batas maksimal jabatan tersebut hanya berlaku di wilayah organisasi yang sama, sehingga langkah Tony untuk bertarung di kursi Kota Blitar tidak terhambat secara administratif.
Tony Andreas membawa misi transformasi melalui manajemen olahraga modern dan tata kelola keuangan yang transparan. Sebagai langkah konkret, ia berencana menggandeng akuntan publik independen untuk mengawasi penggunaan dana hibah olahraga Kota Blitar yang mencapai Rp 5,7 miliar.
“Pengalaman-pengalaman di kabupaten ini akan saya terapkan di kota,” tegas Tony saat memaparkan visinya.
Ia memasang target ambisius, yakni membawa Kota Blitar menembus posisi 15 besar pada Porprov Surabaya dan naik ke 10 besar saat Blitar menjadi tuan rumah mendatang.
Sementara itu, Samanhudi Anwar hadir membawa semangat romantisme kejayaan masa lalu. Majunya Samanhudi dipicu oleh keprihatinan atas menurunnya prestasi olahraga daerah serta adanya dorongan kuat dari berbagai elemen masyarakat olahraga di Kota Patria.
Samanhudi berjanji akan mengumpulkan kembali para mantan atlet untuk merumuskan ulang strategi pembinaan dari akar rumput.
“Saya sebagai putra daerah akhirnya kami *’cancut’* (terlibat langsung) untuk bagaimana bisa Kota Blitar seperti zaman saya dulu,” ujarnya penuh optimisme.
Pertarungan visi ini akan ditentukan oleh suara dari 37 cabang olahraga (cabor) yang memiliki hak pilih sah. Satu cabor, yakni Perbakin, dipastikan kehilangan hak suaranya dalam Musorkot kali ini dikarenakan masa kepengurusan organisasi yang telah kedaluwarsa.
Kini, para pemilik suara dihadapkan pada dua pilihan strategis bagi masa depan atlet. Apakah mereka akan memilih sistem profesional berbasis target yang ditawarkan Tony Andreas, atau kembali ke pelukan figur Samanhudi dengan pendekatan emosional dan solidaritas internalnya.
Eskalasi persaingan diprediksi akan terus memuncak hingga hari pemungutan suara nanti. Musorkot 19 Mei mendatang bukan sekadar memilih ketua, melainkan menentukan arah besar kebangkitan olahraga Kota Blitar di kancah regional maupun nasional.



















