KEDIRI, SuaraRepublika.id – Di sebuah sudut rumah yang harum dengan aroma mentega dan panggangan kue, Yunie Dwi Prastiwi (52) tampak sibuk menata nastar-nastar mungil ke dalam loyang. Tangannya cekatan, sebuah keterampilan yang ia asah bukan hanya dari hobi, melainkan dari memori masa kecil saat memperhatikan sang ibu berkutat di dapur.
Setelah sempat vakum selama beberapa tahun, Yunie memutuskan untuk menghidupkan kembali ovennya pada akhir 2025. Alasannya sederhana namun bermakna, ia ingin tetap produktif di rumah dengan kegiatan yang menghasilkan.
“Saya ingin meneruskan usaha ibu saya dulu. Beliau dulu jualan kue kering, kerupuk, sampai katering. Sekarang saya kerjakan yang ringan-ringan saja sesuai kemampuan, tapi tetap memakai resep asli orang tua saya,” ujar pemilik usaha Anggraini Cookie’s ini dengan nada bangga.
Apa yang dimulai sebagai pengisi waktu luang, kini berkembang menjadi bisnis yang menjanjikan. Produknya beragam, mulai dari nastar klasik, kastengel, sagu keju, hingga putri salju. Meski berbasis di wilayah Kediri, pasar Anggraini Cookie’s justru banyak didominasi oleh pesanan dari Surabaya dan Sidoarjo.
Namun, kejutan sesungguhnya datang dari testimoni mulut ke mulut. Berawal dari sekadar memberikan tester kepada rekan dan kerabat, kelezatan kue buatan Yunie mulai melintasi batas pulau, bahkan negara.
“Kemarin ada teman yang sedang liburan, mencicipi, lalu pesan lagi untuk dikirim ke Makassar,” ceritanya. Tak berhenti di situ, nastar dan kastengel buatannya pun baru-baru ini “terbang” ke Jepang. “Ada kakaknya teman anak saya yang mau balik ke Jepang, dia pesan 4 kilo untuk dibawa ke sana sebagai buah tangan.”
Memasuki momentum Idul Fitri 2026, kesibukan Yunie meningkat berkali-kali lipat. Jika pada hari biasa ia hanya mengolah satu hingga dua kilogram adonan, kini dapur Anggraini Cookie’s mampu memproduksi hingga 5 kilogram kue setiap harinya.
Tren hampers yang ia mulai sejak Natal dan Imlek lalu kini mencapai puncaknya. Pesanan bingkisan lebaran terus mengalir, membuat omzet usahanya melonjak tajam.
“Alhamdulillah, bulan lalu omzet bisa tembus Rp10 juta. Untuk musim lebaran ini, melihat pesanan yang masuk, hitungannya mungkin bisa mencapai Rp25 juta,” ungkapnya sambil tersenyum.
Dengan harga yang dipatok mulai dari Rp50.000 hingga Rp72.000 per toples, Yunie membuktikan bahwa resep rumahan yang dikelola dengan hati bisa bersaing di pasar modern. Baginya, Anggraini Cookie’s bukan sekadar soal angka, melainkan cara menjaga warisan rasa sang ibu tetap hidup dan dinikmati banyak orang, bahkan hingga ke mancanegara.




























