MALANG, SuaraRepublika.id – Pemuda Katolik Malang menggelar Kelas Politiku atau pendidikan tentang politik, demokrasi, dan moralitas sosial bagi ratusan kader-kader Pemuda Katolik se-Regional Jawa dan Lampung. Dalam kegiatan yang diawali dengan Seminar Nasional bertema “Bergerak Dari Altar ke Pasar: Merawat Politik dan Demokrasi yang Berkeadaban” di SMAK St. Albertus (Dempo).
Ketua Umum Pemuda Katolik, Stefanus Gusma, menegaskan bahwa kader harus menjadi agen perubahan sosial dengan mengedepankan nilai keadaban. “Politik bukan sekadar perebutan kekuasaan, melainkan jalan pelayanan,” ujarnya
Sementara itu, Christophorus Suryo, Ketua Komda Jatim, menegaskan bahwa kegiatan ini adalah bentuk kolaborasi dengan Keuskupan Malang, Pemda Kota Malang, dan Komcab Malang. Ia berharap setelah acara ini, kader Pemuda Katolik di Malang dan sekitarnya melanjutkan kolaborasi tersebut. “Kaderisasi harus berkelanjutan, bukan berhenti di satu acara,” katanya.
Kehadiran Wakil Wali Kota Malang Ali Muthohirin menegaskan dukungan pemerintah daerah terhadap kaderisasi politik berkeadaban. Dalam sambutannya, ia menyampaikan bahwa politik harus menjadi ruang pengabdian, bukan sekadar perebutan kepentingan.
Kelas Politiku Kader Pemuda Katolik diawali dengan pemberian materi tentang politik, demokrasi, dan moralitas sosial serta penekanan dari pentingnya keterlibatan umat Katolik dalam politik sebagai wujud iman yang hidup serta uraian tantangan demokrasi Indonesia dan perlunya pengawasan ketat terhadap proses pemilu. Ia menegaskan bahwa demokrasi berkeadaban harus dimulai dari kesadaran individu.
Tidak hanya itu, dalam kesempatan tersebut, para peserta juga mendapatkan materi tentang peran Bawaslu dalam menjaga integritas demokrasi. Ia mengingatkan bahwa pengawasan bukan hanya tugas lembaga, tetapi juga masyarakat sipil, pemahaman politik dari perspektif akademis, serta menekankan pentingnya riset dan analisis dalam membaca dinamika sosial.
Sementara itu, Nurita Yuliati, Wakil Ketua Bidang Politik dan Kepemiluan Pemuda Katolik Jatim yang juga Ketua SC acara ini menambahkan Kelas Politiku menjadi ruang belajar sekaligus ruang refleksi bagi kader. Mereka diajak memahami politik sebagai ruang pelayanan, bukan sekadar perebutan kekuasaan.
Setelah pelatihan inipun, bakal ada tindak lanjut berupa pertemuan kecil sebagai bagian dari action plan batch I. “Kader-kader yang lulus akan kami temani dalam pertemuan kecil, agar kapasitas mereka terus terjaga,” katanya.






























